INDUSTRIAL ENGINEERING

TEKNIK INDUSTRI

Selasa, 17 April 2012

Psikologi Industri

KEKOMPAKAN KELOMPOK

Abstrak

Kekompakan pegawai saat ini menjadi faktor yang sangat penting dalam menentukan pencapaian rencana kerja sebuah instansi. Kekompakan atau kohesivitas tim merupakan salah satu faktor yang menentukan efektivitas dari sebuah tim kerja dalam suatu instansi. Salah satu cara untuk meningkatkan kohesivitas tim adalah dengan pelatihan.

Penelitian kuasi eksperimen ini bertujuan untuk mengetahui peran pelatihan pembentukan tim dalam meningkatkan kohesivitas karyawan di lingkungan kerja KOPERTIS V. Pelatihan pembentukan tim sebagai perlakuan, diasumsikan akan meningkatkan kohesivitas pegawai. Pengukuran kohesivitas tim dilakukan sebelum dan sesudah diberi pelatihan. Skala kohesivitas tim adalah alat ukur yang direspon berdasarkan rating para anggota tim. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis statistik inferensial paired sampel t-tes (t tes sampel berpasangan) Perilaku organisasi juga dikenal sebagai Studi tentang organisasi. Studi ini adalah sebuah bidang telaah akademik khusus yang mempelajari organisasi, dengan memanfaatkan metode-metode dari ekonomi, sosiologi, ilmu politik, antropologi dan psikologi. Disiplin-disiplin lain yang terkait dengan studi ini adalah studi tentang Sumber daya manusia dan psikologi industri serta perilaku organisasi.

Tinjauan umum

Studi organisasi adalah telaah tentang pribadi dan dinamika kelompok dan konteks organisasi, serta sifat organisasi itu sendiri. Setiap kali orang berinteraksi dalam organisasi, banyak faktor yang ikut bermain. Studi organisasi berusaha untuk memahami dan menyusun model-model dari faktor-faktor ini.

Seperti halnya dengan semua ilmu sosial, perilaku organisasi berusaha untuk mengontrol, memprediksikan, dan menjelaskan. Namun ada sejumlah kontroversi mengenai dampak etis dari pemusatan perhatian terhadap perilaku pekerja. Karena itu, perilaku organisasi (dan studi yang berdekatan dengannya, yaitu psikologi industri) kadang-kadang dituduh telah menjadi alat ilmiah bagi pihak yang berkuasa. Terlepas dari tuduhan-tuduhan itu, Perilaku Organisasi dapat memainkan peranan penting dalam perkembangan organisasi dan keberhasilan kerja.

Pada tahun 1960-an dan 1970-an, bidang ini sangat dipengaruhi oleh psikologi sosial dan tekanan dalam studi akademiknya dipusatkan pada penelitian kuantitatif. Sejak tahun 1980-an, penjelasan-penjelasan budaya tentang organisasi dan perubahan menjadi bagian yang penting dari studi ini. Metode-metode kualitatif dalam studi ini menjadi makin diterima, dengan memanfaatkan pendekatan-pendekatan dari antropologi, psikologi dan sosiologi.

Keadaan bidang studi ini sekarang

Perilaku organisasi saat ini merupakan bidang studi yang berkembang. Jurusan studi organisasi pada umumnya ditempatkan dalam sekolah-sekolah bisnis, meskipun banyak universitas yang juga mempunyai program psikologi industri dan ekonomi industri pula.

Bidang ini sangat berpengaruh dalam dunia bisnis dengan para praktisi seperti Peter Drucker dan Peter Senge yang mengubah penelitian akademik menjadi praktik bisnis. Perilaku organisasi menjadi semakin penting dalam ekonomi global ketika orang dengan berbagai latar belakang dan nilai budaya harus bekerja bersama-sama secara efektif dan efisien. Namun bidang ini juga semakin dikritik sebagai suatu bidang studi karena asumsi-asumsinya yang etnosentris dan pro-kapitalis.

Tantangan Bisnis yang akan datang

1. Masalah: Meningkatnya produktivitas tenaga kerja. Tantangan bisnis ke depan adalah bagaimana menciptakan keunggulan bersaing dan mempertahankan kesinambungan bisnis sehingga tuntutan peningkatan produktivitas kerja menjadi suatu keharusan. Upaya peningkatan produktivitas kerja diantaranya melalui perubahan perilaku.

2. Peningkatan keahlian tenaga kerja. Keahlian dinyatakan dalam 3 bentuk: keahlian berkonsep, keahlian teknis dan keahlian teknologi.

3. Menurunnya tingkat kesetiaan karyawan

4. Respon atas era globalisasi (hilangnya batas waktu dan ruang), yakni globalisasi ekonomi dan globalisasi perusahaan.

5. Budaya keanekaragaman tenaga kerja.

6. Munculnya peniru temporer, yakni terdapat pergantian karena adanya persaingan sehingga daur hidup produk semakin singkat. Untuk itu produk yang jenuh membutuhkan inovasi, salah satunya dengan cara menaikkan tingkat ketrampilan.

7. Peningkatan kualitas pelayanan, produk, dan layanan purna jual.

8. Tuntutan dalam beretika bisnis.

Komitmen Organisasi

Komitment organisasi adalah sebagai suatu keadaan dimana seseorang karyawan memihak organisasi tertentu serta tujuan tujuan dan keinginannya untuk mempertahankan keanggotaan dalam organisasi tersebut. Menurut Stephen P. Robbins didefinisikan bahwa keterlibatan pekerjaaan yang tinggi berarti memihak pada pekerjaan tertentu seseorang individu, sementara komitmen organisasional yang tinggi berarti memihak organisasi yang merekrut individu tersebut. Dalam organisasi sekolah guru merupakan tenaga profesional yang berhadapan langsung dengan siswa, maka guru dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik mampu menjalankan kebijakan-kebijakan dengan tujuan-tujuan tertentu dan mempunyai komimen yang kuat terhadap sekolah tempat dia bekerja.,komitmen organisasi adalah tingkat sampai dimana karyawan yakin dan menerima tujuan organisasional, serta berkeinginan untuk tinggal bersama atau meninggalkan perusahaan pada akhirnya tercermin dalam ketidakhadiran dan angka perputaran karyawan.

komitmen organisasi yaitu:

1. keinginan kuat untuk tetap sebagai anggota organisasi tertentu;

2. keinginan untuk berusaha keras sesuai keinginan organisasi; dan

3. keyakinan tertentu, dan penerimaan nilai dan tujuan organisasi. Dengan kata lain, ini merupakan sikap yang merefleksikan loyalitas karyawan pada organisasi dan proses berkelanjutan di mana anggota organisasi mengekspresikan perhatiannya terhadap organisasi dan keberhasilan serta kemajuan yang berkelanjutan

Menurut Allen dan Meyer, ada tiga Dimensi komitment organisasi adalah :

1. Komitmen efektif (effective comitment): Keterikatan emosional karyawan, dan keterlibatan dalam organisasi,

2. Komitmen berkelanjutan (continuence commitment): Komitmen berdasarkan kerugian yang berhubungan dengan keluarnya karyawan dari organisasi. Hal ini mungkin karena kehilangan senioritas atas promosi atau benefit,

3. Komitmen normatif (normative commiment): Perasaan wajib untuk tetap berada dalam organisasi karena memang harus begitu; tindakan tersebut merupakan hal benar yang harus dilakukan.

Dessler memberikan pedoman khusus untuk mengimplementasikan sistem manajemen yang mungkin membantu memecahkan masalah dan meningkatkan komitmen organisasi pada diri karyawan :

1. Berkomitmen pada nilai manusia: Membuat aturan tertulis, mempekerjakan manajer yang baik dan tepat, dan mempertahankan komunikasi.

2. Memperjelas dan mengkomukasikan misi Anda: Memperjelas misi dan ideologi; berkharisma; menggunakan praktik perekrutan berdasarkan nilai; menekankan orientasi berdasarkan nilai dan pelatihan; membentujk tradisi,

3. Menjamin keadilan organisasi: Memiliki prosedur penyampaian keluhan yang koprehensif; menyediakan komunikasi dua arah yang ekstensif,

4. Menciptakan rasa komunitas: Membangun homogenitas berdasarkan nilai; keadilan; menekankan kerja sama, saling mendukung, dan kerja tim, berkumpul bersama,

5. Mendukung perkembangan karyawan: Melakukan aktualisasi; memberikan pekerjaan menantang pada tahun pertama; memajukan dan memberdayakan; mempromosikan dari dalam; menyediakan aktivitas perkembangan; menyediakan keamanan kepada karyawan tanpa jaminan.

Dalam proses dinamika kelompok terdapat faktor yang menghambat maupun memperlancar proses tersebut yang dapat berupa kelebihan maupun kekurangan dalam kelompok tersebut.

1. Kelebihan Kelompok

  • Keterbukaan antar anggota kelompok untuk memberi dan menerima informasi & pendapat anggota yang lain.
  • Kemauan anggota kelompok untuk mendahulukan kepentingan kelompoknya dengan menekan kepentingan pribadi.
  • Kemampuan secara emosional dalam mengungkapkan kaidah dan telah disepakati kelompok.

2. Kekurangan Kelompok

Kelemahan pada kelompok bisa disebabkan karena waktu penugasan, tempat atau jarak anggota kelompok yang berjauhan yang dapat mempengaruhi kualitas dan kuantitas pertemuan.

cara suatu kelompok menghadapi suatu tugas mulai dari awal pembentukan kelompok hingga proyek selesai. Berikut tahap-tahapnya :

1. Pembentukan (Forming)

Pada tahap ini, kelompok baru saja dibentuk dan diberikan tugas. Anggota kelompok cenderung untuk bekerja sendiri dan walaupun memiliki itikad baik namun mereka belum saling mengenal dan belum bisa saling percaya. Waktu banyak dihabiskan untuk merencanakan, mengumpulkan infomasi dan mendekatkan diri satu sama lain.

2. Keributan (Storming)

Pada tahap ini kelompok mulai mengembangkan ide-ide berhubungan dengan tugas yang mereka hadapi. Mereka membahas isu-isu semacam masalah apa yang harus merka selesaikan, bagaimana fungsi mereka masing-masing dan model kepemimpinan seperti apa yang dapat mereka terima. Anggota kelompok saling terbuka dan mengkonfrontasikan ide-ide dan perspektif mereka masing-masing. Pada beberapa kasus, tahap storming cepat selesai. Namun ada pula beberapa kelompok yang mandek pada tahap ini. Tahap storming sangatlah penting untuk perkembangan suatu kelompok. Tahap ini bisa saja menyakitkan bagi anggota kelompok yang menghindari konflik. Anggota kelompok harus memiliki toleransi terhadap perbedaan yang ada.

3. Penormaan (Norming)

Terdapat kesepakatan dan konsensus antara anggota kelompok. Peranan dan tanggung jawab telah jelas. Kelompok mulai menemukan haromoni seiring dengan kesepakatan yang mereka buat mengenai aturan-aturan dan nilai-nilai yang digunakan. Pada tahap ini, anggota kelompok mulai dapat mempercayai satu sama lain seiring dengan mereka melihat kontribusi penting masing-masing anggota untuk kelmpok.

4. Pelaksanaan (Performing)

Kelompok pada tahap ini dapat berfungsi dalam menyelesaikan pekerjaan dengan lancar dan efektif tanpa ada konflik yang tidak perlu dan supervisi eksternal. Anggota kelompok saling tergantung satu sama lainnya dan mereka saling respek dalam berkomunikasi. Supervisor dari kelompok ini bersifat partisipatif. Keputusan penting justru banyak diambil oleh kelompok.

5. Peristirahatan (Adjourning and Transforming)

Ini adalah tahap yang terakhir dimana proyek berakhir dan kelompok membubarkan diri. Kelompok bisa saja kembali pada tahap manapun ketika mereka mengalami perubahan (transforming). Misalnya jika ada review mengenai goal ataupun ada perubahan anggota kelompok.

Psikologi Industri

KEKOMPAKAN KELOMPOK

Abstrak

Kekompakan pegawai saat ini menjadi faktor yang sangat penting dalam menentukan pencapaian rencana kerja sebuah instansi. Kekompakan atau kohesivitas tim merupakan salah satu faktor yang menentukan efektivitas dari sebuah tim kerja dalam suatu instansi. Salah satu cara untuk meningkatkan kohesivitas tim adalah dengan pelatihan.

Penelitian kuasi eksperimen ini bertujuan untuk mengetahui peran pelatihan pembentukan tim dalam meningkatkan kohesivitas karyawan di lingkungan kerja KOPERTIS V. Pelatihan pembentukan tim sebagai perlakuan, diasumsikan akan meningkatkan kohesivitas pegawai. Pengukuran kohesivitas tim dilakukan sebelum dan sesudah diberi pelatihan. Skala kohesivitas tim adalah alat ukur yang direspon berdasarkan rating para anggota tim. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis statistik inferensial paired sampel t-tes (t tes sampel berpasangan) Perilaku organisasi juga dikenal sebagai Studi tentang organisasi. Studi ini adalah sebuah bidang telaah akademik khusus yang mempelajari organisasi, dengan memanfaatkan metode-metode dari ekonomi, sosiologi, ilmu politik, antropologi dan psikologi. Disiplin-disiplin lain yang terkait dengan studi ini adalah studi tentang Sumber daya manusia dan psikologi industri serta perilaku organisasi.

Tinjauan umum

Studi organisasi adalah telaah tentang pribadi dan dinamika kelompok dan konteks organisasi, serta sifat organisasi itu sendiri. Setiap kali orang berinteraksi dalam organisasi, banyak faktor yang ikut bermain. Studi organisasi berusaha untuk memahami dan menyusun model-model dari faktor-faktor ini.

Seperti halnya dengan semua ilmu sosial, perilaku organisasi berusaha untuk mengontrol, memprediksikan, dan menjelaskan. Namun ada sejumlah kontroversi mengenai dampak etis dari pemusatan perhatian terhadap perilaku pekerja. Karena itu, perilaku organisasi (dan studi yang berdekatan dengannya, yaitu psikologi industri) kadang-kadang dituduh telah menjadi alat ilmiah bagi pihak yang berkuasa. Terlepas dari tuduhan-tuduhan itu, Perilaku Organisasi dapat memainkan peranan penting dalam perkembangan organisasi dan keberhasilan kerja.

Pada tahun 1960-an dan 1970-an, bidang ini sangat dipengaruhi oleh psikologi sosial dan tekanan dalam studi akademiknya dipusatkan pada penelitian kuantitatif. Sejak tahun 1980-an, penjelasan-penjelasan budaya tentang organisasi dan perubahan menjadi bagian yang penting dari studi ini. Metode-metode kualitatif dalam studi ini menjadi makin diterima, dengan memanfaatkan pendekatan-pendekatan dari antropologi, psikologi dan sosiologi.

Keadaan bidang studi ini sekarang

Perilaku organisasi saat ini merupakan bidang studi yang berkembang. Jurusan studi organisasi pada umumnya ditempatkan dalam sekolah-sekolah bisnis, meskipun banyak universitas yang juga mempunyai program psikologi industri dan ekonomi industri pula.

Bidang ini sangat berpengaruh dalam dunia bisnis dengan para praktisi seperti Peter Drucker dan Peter Senge yang mengubah penelitian akademik menjadi praktik bisnis. Perilaku organisasi menjadi semakin penting dalam ekonomi global ketika orang dengan berbagai latar belakang dan nilai budaya harus bekerja bersama-sama secara efektif dan efisien. Namun bidang ini juga semakin dikritik sebagai suatu bidang studi karena asumsi-asumsinya yang etnosentris dan pro-kapitalis.

Tantangan Bisnis yang akan datang

1. Masalah: Meningkatnya produktivitas tenaga kerja. Tantangan bisnis ke depan adalah bagaimana menciptakan keunggulan bersaing dan mempertahankan kesinambungan bisnis sehingga tuntutan peningkatan produktivitas kerja menjadi suatu keharusan. Upaya peningkatan produktivitas kerja diantaranya melalui perubahan perilaku.

2. Peningkatan keahlian tenaga kerja. Keahlian dinyatakan dalam 3 bentuk: keahlian berkonsep, keahlian teknis dan keahlian teknologi.

3. Menurunnya tingkat kesetiaan karyawan

4. Respon atas era globalisasi (hilangnya batas waktu dan ruang), yakni globalisasi ekonomi dan globalisasi perusahaan.

5. Budaya keanekaragaman tenaga kerja.

6. Munculnya peniru temporer, yakni terdapat pergantian karena adanya persaingan sehingga daur hidup produk semakin singkat. Untuk itu produk yang jenuh membutuhkan inovasi, salah satunya dengan cara menaikkan tingkat ketrampilan.

7. Peningkatan kualitas pelayanan, produk, dan layanan purna jual.

8. Tuntutan dalam beretika bisnis.

Komitmen Organisasi

Komitment organisasi adalah sebagai suatu keadaan dimana seseorang karyawan memihak organisasi tertentu serta tujuan tujuan dan keinginannya untuk mempertahankan keanggotaan dalam organisasi tersebut. Menurut Stephen P. Robbins didefinisikan bahwa keterlibatan pekerjaaan yang tinggi berarti memihak pada pekerjaan tertentu seseorang individu, sementara komitmen organisasional yang tinggi berarti memihak organisasi yang merekrut individu tersebut. Dalam organisasi sekolah guru merupakan tenaga profesional yang berhadapan langsung dengan siswa, maka guru dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik mampu menjalankan kebijakan-kebijakan dengan tujuan-tujuan tertentu dan mempunyai komimen yang kuat terhadap sekolah tempat dia bekerja.,komitmen organisasi adalah tingkat sampai dimana karyawan yakin dan menerima tujuan organisasional, serta berkeinginan untuk tinggal bersama atau meninggalkan perusahaan pada akhirnya tercermin dalam ketidakhadiran dan angka perputaran karyawan.

komitmen organisasi yaitu:

1. keinginan kuat untuk tetap sebagai anggota organisasi tertentu;

2. keinginan untuk berusaha keras sesuai keinginan organisasi; dan

3. keyakinan tertentu, dan penerimaan nilai dan tujuan organisasi. Dengan kata lain, ini merupakan sikap yang merefleksikan loyalitas karyawan pada organisasi dan proses berkelanjutan di mana anggota organisasi mengekspresikan perhatiannya terhadap organisasi dan keberhasilan serta kemajuan yang berkelanjutan

Menurut Allen dan Meyer, ada tiga Dimensi komitment organisasi adalah :

1. Komitmen efektif (effective comitment): Keterikatan emosional karyawan, dan keterlibatan dalam organisasi,

2. Komitmen berkelanjutan (continuence commitment): Komitmen berdasarkan kerugian yang berhubungan dengan keluarnya karyawan dari organisasi. Hal ini mungkin karena kehilangan senioritas atas promosi atau benefit,

3. Komitmen normatif (normative commiment): Perasaan wajib untuk tetap berada dalam organisasi karena memang harus begitu; tindakan tersebut merupakan hal benar yang harus dilakukan.

Dessler memberikan pedoman khusus untuk mengimplementasikan sistem manajemen yang mungkin membantu memecahkan masalah dan meningkatkan komitmen organisasi pada diri karyawan :

1. Berkomitmen pada nilai manusia: Membuat aturan tertulis, mempekerjakan manajer yang baik dan tepat, dan mempertahankan komunikasi.

2. Memperjelas dan mengkomukasikan misi Anda: Memperjelas misi dan ideologi; berkharisma; menggunakan praktik perekrutan berdasarkan nilai; menekankan orientasi berdasarkan nilai dan pelatihan; membentujk tradisi,

3. Menjamin keadilan organisasi: Memiliki prosedur penyampaian keluhan yang koprehensif; menyediakan komunikasi dua arah yang ekstensif,

4. Menciptakan rasa komunitas: Membangun homogenitas berdasarkan nilai; keadilan; menekankan kerja sama, saling mendukung, dan kerja tim, berkumpul bersama,

5. Mendukung perkembangan karyawan: Melakukan aktualisasi; memberikan pekerjaan menantang pada tahun pertama; memajukan dan memberdayakan; mempromosikan dari dalam; menyediakan aktivitas perkembangan; menyediakan keamanan kepada karyawan tanpa jaminan.

Dalam proses dinamika kelompok terdapat faktor yang menghambat maupun memperlancar proses tersebut yang dapat berupa kelebihan maupun kekurangan dalam kelompok tersebut.

1. Kelebihan Kelompok

  • Keterbukaan antar anggota kelompok untuk memberi dan menerima informasi & pendapat anggota yang lain.
  • Kemauan anggota kelompok untuk mendahulukan kepentingan kelompoknya dengan menekan kepentingan pribadi.
  • Kemampuan secara emosional dalam mengungkapkan kaidah dan telah disepakati kelompok.

2. Kekurangan Kelompok

Kelemahan pada kelompok bisa disebabkan karena waktu penugasan, tempat atau jarak anggota kelompok yang berjauhan yang dapat mempengaruhi kualitas dan kuantitas pertemuan.

cara suatu kelompok menghadapi suatu tugas mulai dari awal pembentukan kelompok hingga proyek selesai. Berikut tahap-tahapnya :

1. Pembentukan (Forming)

Pada tahap ini, kelompok baru saja dibentuk dan diberikan tugas. Anggota kelompok cenderung untuk bekerja sendiri dan walaupun memiliki itikad baik namun mereka belum saling mengenal dan belum bisa saling percaya. Waktu banyak dihabiskan untuk merencanakan, mengumpulkan infomasi dan mendekatkan diri satu sama lain.

2. Keributan (Storming)

Pada tahap ini kelompok mulai mengembangkan ide-ide berhubungan dengan tugas yang mereka hadapi. Mereka membahas isu-isu semacam masalah apa yang harus merka selesaikan, bagaimana fungsi mereka masing-masing dan model kepemimpinan seperti apa yang dapat mereka terima. Anggota kelompok saling terbuka dan mengkonfrontasikan ide-ide dan perspektif mereka masing-masing. Pada beberapa kasus, tahap storming cepat selesai. Namun ada pula beberapa kelompok yang mandek pada tahap ini. Tahap storming sangatlah penting untuk perkembangan suatu kelompok. Tahap ini bisa saja menyakitkan bagi anggota kelompok yang menghindari konflik. Anggota kelompok harus memiliki toleransi terhadap perbedaan yang ada.

3. Penormaan (Norming)

Terdapat kesepakatan dan konsensus antara anggota kelompok. Peranan dan tanggung jawab telah jelas. Kelompok mulai menemukan haromoni seiring dengan kesepakatan yang mereka buat mengenai aturan-aturan dan nilai-nilai yang digunakan. Pada tahap ini, anggota kelompok mulai dapat mempercayai satu sama lain seiring dengan mereka melihat kontribusi penting masing-masing anggota untuk kelmpok.

4. Pelaksanaan (Performing)

Kelompok pada tahap ini dapat berfungsi dalam menyelesaikan pekerjaan dengan lancar dan efektif tanpa ada konflik yang tidak perlu dan supervisi eksternal. Anggota kelompok saling tergantung satu sama lainnya dan mereka saling respek dalam berkomunikasi. Supervisor dari kelompok ini bersifat partisipatif. Keputusan penting justru banyak diambil oleh kelompok.

5. Peristirahatan (Adjourning and Transforming)

Ini adalah tahap yang terakhir dimana proyek berakhir dan kelompok membubarkan diri. Kelompok bisa saja kembali pada tahap manapun ketika mereka mengalami perubahan (transforming). Misalnya jika ada review mengenai goal ataupun ada perubahan anggota kelompok.

Senin, 09 April 2012

Psikologi Industri

Komunitas : didasari oleh minat yang cenderung sama, namun tujuan cenderung berbeda-beda

Ikatan Kebersamaan Dengan Kordinasi Aktif

Hubungan yang kontinyu dan aktif dalam komunikasi antara pimpinan dengan anak buah atau anggota, dan antar anggota dengan anggota yang lainnya akan berdampak pada peningkatan rasa kebersamaan dan kekompakan kelompok. Sebagai makhluk ciptaan Allah SWT manusia diberi beberapa kelebihan yang tidak diberikan pada makhluk lainnya. Di mana manusia memiliki suatu keanehan dan keganjilan antar satu individu dengan individu lainnya, dalam bentuk perbedaan kelebihan.

Seseorang yang menempati atau berada dalam suatu komunitas tentu menyadari bahwa keberadaan dirinya tidak terlepas dari bagian- bagian yang ada dikomunitas di mana dia berada. Hal ini yang menjadi landasan bahwa pada kenyataannya kita tidak bisa hidup sendirian yaitu membutuhkan keberadaan orang lain dalam memenuhi kebutuhan – kebutuhan hidup yang kita inginkan dan kita butuhkan. Dan kesadaran yang seperti ini diharapkan ada pada anggota sebuah organisasi khususnya anggota yang terpilih menjadi pengurus sebuah organisasi.

Dengan adanya rasa saling membutuhkan dan saling menyadari akan menuntun pengurus yang merupakan bagian utama dari organisasi bersikap demokratis, toleran, dan dewasa di dalam menjalankan roda organisasi. Sehingga pada saat akan melakukan tindakan, pengambilan keputusan, dan merencanakan suatu program selalu muncul pertanyaan. Siapa yang mesti bertugas dan kepada siapa tugas itu saya serahkan kewenangannya, dengan demikian tidak terjadi adanya saling tumpang tindih dalam pelaksanaan tugas di organisasi dan tidak terjadi tindakan kesewenang – wenangan yang dilakukan oleh anggota atau pengurus dari organisasi itu sendiri. Apalagi jika dikaitkan dengan sikap dasar dari unsur pengembangan diri dan unsur landasan kemanusiaan sangat tidak dibolehkan melakukan suatu tindakan tanpa melihat dan memperhatikan kebutuhan, kepentingan, dan kemampuan orang lain.

Komponen Sikap

Komponen kognitif, afektif, dan kecenderungan bertindak merupakan suatu kesatuan

sistem, sehingga tidak dapat dilepas satu dengan lainnya. Ketiga komponen tersebut secara

bersama-sama membentuk sikap pribadi.

Semakin kompleks situasinya dan semakin banyak faktor yang ikut menjadi

pertimbangan dalam bertindak, maka semakin sulitlah memprediksi perilaku dan semakin sulit

pula penafsirannya sebagai indikator sikap seseorang.

Sikap mempunyai segi-segi motivasi dan segi-segi perasaan. Sifat inilah yang membedabedakan sikap dari kecakapan-kecakapan atau pengetahuan-pengetahuan yang dimiliki orang.

Struktur dan Tujuan Kelompok

Struktur kelompok merupakan pola interelasi anggota kelompok. Oleh karena itu,

kelompok sosial merupakan kelompok yang berstruktur, yaitu kelompok yang mempunyai

organisasi tertentu. Kelompok tentu dapat diorganisasikan dengan berbagai macam cara. Namun demikian,ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dan dapat mempengaruhi keputusan kelompok, yaitu:

(1) bagaimana kelompok diorganisasikan secara efisien,

(2) mengingat lingkungan fisik dan sosial kelompok,

(3) bagaimana kemampuan, sikap, kebutuhan- kebutuhan, dan motivasi para

anggota kelompok. Ketiganya dapat mempengaruhi struktur suatu kelompok. Lingkungan social dan fisik, kemampuan para anggota, serta sikap dan kebutuhan yang berbeda antara kelompok satu dengan kelompok lain akan membawa perbedaan dalam struktur yang ada dalam kelompok bersangkutan. Struktur dapat dibentuk secara formal maupun informal. dari keadaan tersebut, terjadilah pembagian tugas dalam kelompok tersebut sesuai dengan kemampuan masing- masing anggotanya.

Komunikasi dalam Kelompok

Kelompok merupakan bagian yang tidak dapat dilepaskan dari aktivitas kita sehari-hari. Kelompok baik yang bersifat primer maupun sekunder, merupakan wahana bagi setiap orang untuk dapat mewujudkan harapan dan keinginannya berbagi informasi dalam hampir semua aspek kehidupan.Komunikasi merupakan dasar semua interaksi manusia dan untuk semua fungsi kelompok. Setiap kelompok harus menerima dan menggunakan informasi dan proses terjadi melalui komunikasi, pada pertukaran informasi dan meneruskan (transmitting) arti komunikasi.

Dalam komunikasi, dua orang melihat satu dengan yang lain merupaka suatu proses yang kontinu dan mempunyai efek persepsi satu dengan yang lain serta mempunyai ekspektasi apa yang akan diperbuat.Karena komunikasi merupakan suatu proses, maka pengiriman dan penerimaan berlangsung simultan. Seseorang dapat berbicara (mengirim pesan) dan pada waktu yang sama penerima memberikan respons. terdapat tujuh elemen dalam proses komunikasi interpersonal

i. Ada ide, perasaan, dan intense dari pengirim (sender) serta cara menyampaikan pesan.

ii. Pengirim berkehendak mengenai ide, perasaan, dan intense untuk dikirim.

iii. Pengirim mengirimkan pesan kepada penerima.

iv. Pesan dikirim melalui channel.

v. Penerima menerima (decodes) pesan dengan menginterpretasikan artinya.

vi. Penerima merespons interpretasi mengenai pesan.

vii. Gangguan (noise) merupakan elemen yang mengganggu proses komunikasi.

Jangan Paksa Siapapun

Siapapun kita, ketika bergabung dengan suatu komunitas cenderung secara sukarela dan tanpa paksaan. Sifat sukarela inilah yang tidak bisa membuat siapapun untuk memaksa seseorang yang belum bergabung supaya bergabung, atau yang sudah bergabung dipaksa untuk aktif. Kita tidak bisa memaksa siapapun untuk tunduk kepada tujuan kita, karena setiap orang mempunyai tujuan sendiri-sendiri. Tujuan atau visi yang terdapat didalam komunitas setidaknya harus dibagi dua, yaitu tujuan bersama (komunitas) dan tujuan individunya. Tujuan komunitas bisa mengambil dasar dari unsur kesamaan yang melahirkan komunitas itu sendiri. Misalnya begini, sebuah komunitas blogger ya setidaknya harus mempunyai tujuan (visi) yang paling tidak masih berkaitan dengan duni blog itu sendiri. Akan sangat konyol kalau seumpamanya komunitas blogger mempunyai tujuan suksesi politik atau ideologi.Jika tujuan suatu komunitas sejalan dengan tema komunitas tersebut, maka insya Allah akan sejalan pula dengan tujuan dari para anggotanya. Dalam satu komunitas, ketentuan-ketentuan itu memang harus ada. Tapi, ketentuan itupun harus dibuat bersama. Ketentuan yg dibuat bersama sudah pasti tidak bisa menyatukan semua pendapat secara utuh dari tiap-tiap anggota atau para pendirinya, untuk itulah kita harus bisa legowo ketika sebagian pendapat kita tidak bisa menjadi bagian yang disepakati. Salah satu hal yang harus diwanti-wanti dalam menyusun ketentuan atau mungkin Anggaran Dasar / Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) ;

  • Konseplah sebuah aturan main yang tidak hanya menjadi rambu-rambu bagi yang sudah bergabung, tapi juga memberi ruang yang sama bagi yang mau bergabung.
  • Tidak ragu untuk menelaah kembali aturan main tersebut secara berkala di kemudian waktu.

Bersikaplah Menyenangkan

Beda orang beda kepala, beda kepala beda pula cara bersikap. Mungkin itulah salah satu istilah yang harus kita perhatikan dalam satu komunitas. Kita jangan berharap komunitas kita akan tumbuh dan menjadi besar, kalau kita sendiri tidak bisa menjadi teman yang ramah dan menyenangkan bagi anggota yang lainnya. Kita mungkin paling duluan di komunitas tersebut, mungkin pula paling mengerti tentang bidang yang menjadi background komunitas tersebut. Tapi, cobalah untuk bersikap santun penuh keakraban sehingga kita tidak terkesan angkuh dan sombong. Apalah gunanya paling pandai tapi kalau tidak ada teman ?. Kita harus ingat kembali, bahwa kebanyakan orang bergabung di suatu komunitas itu ingin mendapatkan sesuatu yang nyaman dan menyenangkan (dan itu dinilai bermanfaat) bagi mereka. Maka, ketika komunitas tersebut dirasa kurang menyenangkan dan bahkan tidak bermanfaat, siap-siap saja mengerdil. Menyenangkan dan bermanfaat itu harus diwujudkan oleh setiap individunya. Bersikap welcome kepada yang baru bergabung dan tidak diam seribu bahasa yang membuat semakin malu yang baru bergabung, mungkin salah satu cara positif untuk membuat kesan pertama begitu menggoda dan selanjutnya tetap bergantung kepada Anda. Jangan ada yang merasa paling berjasa atau berkuasa, karena masing-masing orang punya rasa. Ciri-ciri besarnya komunitas adalah banyaknya orang yang merasa betah dan nyaman di komunitas tersebut. Usahakan bahwa setiap antara anggotanya bisa sampai merasakan adanya hubungan kedekatan emosional yang sangat erat seumpama organ dalam satu tubuh.

Sembunyikan Kontradiksi Perbedaan

Di luar komunitas dimana kita bergabung, mungkin kita mempunyai banyak perbedaan yang begitu menonjol tapi tidak perlu diprimordialkan. Mulai dari perbedaan suku, ras, agama, profesi, atau bahkan ideologi. Kecuali, komunitas yang digeluti memiliki spesifikasi dari salah satu bagian perbedaan tersebut.Pada sebuah komunitas yang berlatar belakang kepribadian yang majemuk, kita tidak bisa menonjolkan kepribadian kita seutuhnya. Karena, itu hanya akan melahirkan benturan-benturan antar sesama anggota komunitas. Profesional saja, diluaran kita bebas berekspresi dengan latar belakang kepribadian kita (misal : sebagai politikus atau pejabat), tapi ketika di dalam komunitas maka itu semua harus ditanggalkan. Alangkah lebih baiknya di komunitas tersebut kita lebih fokus pada bidang yang menjadikan wujud komunitas itu ada. Dengan begitu, kita akan lebih merasakan manfaat dari komunitas yang kita ikuti. Ketika sebuah komunitas dirasa manfaat, maka setiap anggotapun akan semakin loyal untuk turut serta memberikan kontribusi. Dibandingkan sibuk menonjolkan ke-primordial-an, lebih positif lagi jika kita bahu membahu membesarkan komunitas tersebut sebisa mungkin melalui berbagai cara yang kreatif dan inovatif, agar komunitas mempunyai injeksi untuk “jajan even”. Komunitas terdiri dari sekumpulan orang yang dibentuk berdasarkan minat pada bidang yang sama. Didalamnya terdapat banyak latar belakang, pemikiran, penilaian, dan sikap. Latar belakang, pemikiran, penilaian, dan sikap tersebut tidak mungkin semuanya sama, bahkan cenderung penuh perbedaan yang jika dipaksakan akan memnyebabkan resistensi. Tapi, percayalah… bahwa perbedaan-perbedaan tersebut bida menjadi kekayaan tersendiri yang memberi corak-corak harmoni warna yang indah jika diantara semua pemegang perbedaan tersebut menyadari bahwa “kewajiban saya adalah hak orang lain dan hak saya adalah kewajiban orang lain”, artinya : antara kita mempunyai garis pembatas yang kalau itu tidak dilampaui maka sama halnya dengan saling menghormati. Dengan begitu, Insya Allah komunitaspun bisa terus bernafas dan eksis. :-)